Our self (part1)

Kadang sebuah permasalahan dapat membuat seseorang menjadi pribadi yang berbeda atau lebih pada ‘dia yang sebenarnya’. Bukan berarti saat tidak ada masalah dia bertindak seperti orang lain, tapi kadang beberapa orang mudah terbawa emosi saat mereka menghadapi suatu masalah. Beberapa diantaranya ada yang mudah marah, mudah sedih, atau ada juga yang tidak ambil pusing. Mereka yang tidak ambil pusing atau santai dalam menyikapi masalah tersebut dimana mereka tidak menunjukkan perubahan yang terlalu signifikan pada tingkah laku tetapi dapat mengontrol emosi mereka dengan cukup baik. Disini juga bukan berarti mereka sama sekali tidak ‘berubah’ tetapi mereka bisa menahan atau memilah kapan dan bagaimana seharusnya, apakah membantu, apakah mengurangi, atau malah menambah masalah dengan tindakan mereka tersebut. Sebagian yang meluapkan emosinya dengan marah, berteriak, atau sensitif dengan sekelilingnya justru akan menambah beban. Percaya atau tidak, dengan emosi yang meluap otakpun akan bekerja lebih keras sehingga membuat semuanya terlihat lebih kacau, karena masalah akan menjadi lebih berat ketika kita membuatnya terkesan berlebihan. Seberat apapun itu, sesulit apapun, semua pasti ada jalan keluarnya apapun itu akhirnya.
Kemudian tentang kesederhanaan. ‘Don’t judge a book by its cover’. Quote tersebut memang terkesan klise buat kita, tapi itu nyata dan berlaku untuk kita. Tidak perlu bersusah payah tampil WAH padahal sendirinya kesusahan, atau kebalikannya yang sebenarnya WAH tapi bergaya seperti orang kesusahan. Tidak perlu bilang bisa padahal tidak dan sebaliknya pula tidak perlu berpura2 tidak bisa padahal ia bisa. Sederhana menurut gue itu PAS. Ngga berlebihan dan ngga kekurangan. Semuanya pada tempatnya, tidak dibuat2 dan tidak ada pemaksaan. Sederhana bukan berarti kita berpura2 seperti orang tidak mampu, atau menggunakan pakaian yang tidak layak. Sederhana itu bagaimana kita menempatkan diri pada posisi kita, dimana kita mampu, dimana kita bisa, dimana kita tahu, dan dimana pula kita harus berbuat tanpa harus pamrih atau melebih2kan. Kemampuan kita hanya kita yang tau, kelebihan yang kita punya digunakan sesuai pada tempat dan waktu yang tepat. Sederhana itu kejujuran, jujur pada diri sendiri tidak ada yang dibuat2 atau disembunyikan. Semuanya berasal dari hati. Hargai semua orang sejak awal pertemuan, bersikap baik dan ramah, karena kita saling membutuhkan tapi tidak bergantung pada mereka. Kita makhluk sosial, perlu bersosialisasi itu yang dimaksud membutuhkan tetapi bukan untuk menaruh harapan untuk diri kita sendiri pada orang lain. Ketika kita sudah dikenal baik oleh banyak orang, maka akan ada tempat tersendiri dihati mereka untuk kita. Percaya deh, orang terkaya, orang pintar bahkan professor sekalipun, atau orang dengan multitalented sekalipun tanpa kebaikan tidak akan mendapatkan tempat sebaik orang biasa atau bukan siapa2 yang mempunyai tempat dihati mereka karena kebaikannya.
Terakhir, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman tentang kehidupan merupakan guru terbaik untuk kita. Guru bisa siapa saja, anak kecil, orang dewasa, kakek nenek, pembantu, supir, pedagang kaki lima, padi atau apapun itu. Semua adalah guru buat kita, seperti padi semakin berisi,semakin merunduk. Perhatikan lingkungan sekitar, diatas langit masih ada langit. Berbahagialah karena kita juga Guru bagi diri kita sendiri. Tergantung diri ini mau seperti apa dan bagaimana.

talk to me (twitter) @deazasqiya ☺♥☺

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s