Insyallah bermanfaat :)

IMG_0726

Apa lagi yang mau dibanggakan tentang duniawi kalau kita ingat dan sadar bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali kepadaNya tanpa membawa benda apapun.
Kemarin aku nggak sengaja bengong trus tiba-tiba kayak mengalami halusinasi tentang kehidupan dan kematian. Aku liat semua barang-barang yang aku pakai pada saat itu dari mulai tas, baju, sepatu, jam, perhiasan, dan lain-lain termasuk semua yang keluarga aku pakai. Kemudian aku keinget sama hari dimana nanti aku meninggal, cuma pakai bungkusan kain putih.
Jadi inti dari pemikiran aku pada saat itu adalah, ngapain sekarang aku harus ngikutin semua nafsu untuk memiliki ini itu barang mewah dan update, sedangkan barang-barangku (mohon maaf) dari sejak lahir sudah barang kelas atas katakanlah begitu, lalu apalagi, saat inipun alhamdulillah keluargaku dan keluarga suamiku tergolong keluarga yang diatas batas kecukupan jadi nggak perlu lagi mencari status “orang borju” atau “orang kaya”. Bukan disitu aku mau jelasin tentang posting kali ini. Lebih kepada bagaimana cara kita meningkatkan tabungan untuk di akhirat nanti, dimana semuanya bukan dihitung dari berapa jumlah uangmu di dunia, berapa jumlah mobilmu, berapa jumlah rumahmu, dan lain sebagainya. Percuma sekarang kita bermandikan harta, percuma saat ini kita memiliki keluarga atau orang tua yang berkecukupan kalau cara bersyukurpun kita tidak tau. Allah yang menyediakan semua bahan baku di alam duniawi ini, manusia yang mengolah dan menjadikan mereka kaya atau kurang kaya. Sekarang, pernah nggak kalian berterima kasih kepada pencipta kalian dengan cara sholat 5 waktu, atau berpuasa senin-kamis walaupun tidak wajib, atau dengan cara yang lain? Sebentar saja… Hanya untuk menambahkan pahala kalian atau tabungan untuk di akhirat nanti.

Pernah ada yang bilang,

kalau gue sih emang jarang banget sholat ya tapi setiap dapat sesuatu gue selalu ngucap syukur dan kalo inget Tuhan selalu berdoa dimana aja

Itu sama aja kayak kalian sayang sama orang tua kalian atau pacar atau teman atau siapa aja deh tapi kalian nggak pernah ngutarain atau bilang atau nunjukin sama mereka yang kalian sayang, cuma kalian ungkapin dalam hati kalian aja. Ya tentu dooong mereka nggak tau kalau kamu sayang sama mereka??? Yakan..

tapi kan Allah atau Tuhan beda, dia bisa tau semua isi hati kita walaupun kita nggak bertindak atau berucap?!

Itu kan yang kalian mau, karena mau simple jadi jelas keluarlah statement seperti itu. Kalau kalian beranggapan Tuhan kalian atau Allah SWT gak masalah dengan cara seperti itu, maka gak perlu lah aku rasa dari zaman nabi adam ada sholat atau puasa dan lain sebagainya. Lakuin aja semuanya dalam hati kan?

Sebenernya aku juga gak mau mengguruin dalam hal agama, kadangkala aku juga gak tau apa bener cara penyampaian aku tentang agamaku. Tapi yang pastinya aku yakini kita meninggal kemudian ada hari dimana akan dihitung semua pahala dan amalan kita selama di dunia ini.
Barusan aja aku sengaja kenain sepatu yang dipakain sama suamiku dengan ujung tongkat yang papa mertuaku dapat dari rumah saudaranya kemarin. Tongkat itu usianya udah ratusan tahun tapi masih bagus, bersih, dan kuat. Tapi suamiku malah kasih muka gak enak karena takut sepatu itu kotor. Padahal tongkat itu nggak kotor sama sekali… Dalam hati ya ampun, perasaan kalau kotor tinggal di lap atau di gosok pakai sikat sedikit pasti bersih. Ininih tipe orang yang menduniawi banget (udah agak jelek juga pemikiran itu) tapi seketika aku coba membalikannya ke arah yang positif. Mungkin sepatu itu harganya mahal, dan kalau mau beli lagi belum tentu ada, jadi dijaga baik-baik (memang betul barang-barang yang mertua aku punya bagus-bagus semua dan dijaganya banget bangetan. tapi kalau dikeluarga mamaku barang yang kami punya bagus-bagus semua tapi nggak segitunya dalam hal perhatiin barang, kotor ya kotor aja toh bisa dibersihkan. itulah perbedaan tradisi keluarga kami)

Sejak kecil aku memang selalu diajarkan setinggi-tingginya posisi keluarga kita sekarang, Dea dan Debby harus selalu mau melihat ke bawah, dan selalu bantu mereka yang kesusahan selagi keluarga kita mampu, dan jangan suka berlebih-lebihan, tidak perlu pamer ini itu untuk dikenal orang, cukup berperilaku baik dan tidak merendahkan harga diri orang, kalian sudah jadi seseorang

Jadilah kami anak-anak mama yang seperti saat ini. Walaupun segala sesuatunya bisa aku dapatkan dengan mudah seperti hanya meminta ke mama, tapi rasa malu aku buat minta itu tinggiiii banget, karena mama selalu berfikir ketika kita mau menghamburkan sesuatu untuk hal yang tidak penting (dalam artian sering berfoya-foya) orang yang dibawah kita masih banyak yang membutuhkan bantuan kita. Sesekali it’s okay, untuk membeli tas, sepatu, jalan dan lain-lain itu harus tetap ada nggak boleh dihapus-hapus tapi bukan jadi sesuatu yang harus.

Kembali lagi, ketika semuanya indah, aku selalu memikirkan cara terbaik untuk bersyukur. Bersyukur atas keluargaku, bersyukur atas kesehatanku, bersyukur atas kehidupanku dan lain sebagainya. Nggak jarang Allah SWT kasih cobaan, tapi itulah cara kita untuk kembali ke jalanNya. Karena kebanyakan dari kita baru ingat dengan penciptanya kalau sedang dilanda masalah πŸ™‚

Ingat. Sebesar-besarnya rumah yang kamu tempati saat ini, sebanyak -banyaknya uang yang kamu timbun saat ini, selebar-lebarnya kasur yang kamu tiduri saat ini, akhir jalan kita hanya akan memiliki selembar kain kafan putih dan tanah ukuran 2×1. Nggak ada cerita, mau kalian tingginya 3meter tanah itu tetap 2×1. Jadi, cukup sudah dengan apa yang kalian miliki saat ini, bersyukurlah, berdoalah, sholatlah, tobatlah, memohon untuk dilindungi di dunia dan di akhirat. πŸ™‚

Semoga postingan kali ini bisa ngajak semua teman-teman yang beragama untuk mau kembali ke jalan yang benar, mengikuti ajaran agama masing-masing dan bukan mengingat hari ini saja tetapi juga mengingat hari akhir yang sudah pasti. Kita semua nggak ada yang tahu pasti kapan nafas kita berhenti, kapan jantung kita nggak berdetak lagi, jadi perbanyak amal ibadah, supaya siap dunia dan akhirat. Wassalam πŸ™‚

2 Comments

  1. Ali Reza

    Kenapa sepatu itu dengan cepat langsung dibersihkan? Karena yang punya sayang. Kalau yang kotor tidak terlalu disenangi, mungkin nanti-nanti saja dibersihkannya, ditunda. Tapi itu baru sebatas benda fisik. Belum hati. Mungkin begitu juga ketika Tuhan sayang sama seorang manusia, akan diberi kotoran untuk segera dibersihkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s