Pandangan : Akhlak dan Agama 

Di postingannya kali ini, saya mau bahas akhlak dan agama, yang saya sendiri masih jauh dari sempurna dan ini ada kaitannya dalam kehidupan saya sendiri. Saya tidak malu dan tidak segan-segan menceritakan kisah saya sebagai contoh, siapa tau ini semua bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Pemahaman saya tentang kehidupan ini, dulu, atau mungkin bisa jadi sampai saat ini masih sama, bahwa Akhlak yang baik bisa mengkonversi kekurangan dalam beribadah atau beragama. Seolah-olah dari akhlak yang baik sudah bisa menjamin kita kelak akan baik di akhirat. Ternyata itu salah.

Baik akhlak dan agama, haruslah seimbang atau paling tidak jangan jomplang-jomplang amat. Saya bukannya mau menggurui, tapi mau berbagi pendapat dan pengalaman hidup aja kok. Duluuu, sebelum memiliki keturunan, sebelum hamil baby Celine, gaya hidup saya semerawut deh pokoknya. Itu terjadi dari sejak masa remaja, gimana sih yang namanya anak Jakarta kalau hangout tempatnya situ-situ aja dan modelnya begitu semua, If you know what I mean. Ada aja sesuatu yang bentuk negatif, seperti rokok, alkohol, kehidupan bebas, dan lain sebagainya, terlalu serem kalau disebutkan semuanya. Jujur, saya sangat mementingkan sikap ramah dan bersahabat dengan semua orang, walaupun baru pertama kali bertemu. Prinsip dasar saya adalah, selama mereka baik dengan saya maka saya akan lebih baik dengan mereka. Simpel kan? Nah,saya orangnya cenderung berpikiran ke-Jawa-Bali-an. Kalau kalian pernah ke Jawa, Malang lebih tepatnya, kalian pasti tau gimana sifat atau sikap orang jawir yang “njih-njih” mulu padahal belum tentu hati sreg (sedikit munaroh emang hehe), dan ke-Bali-an, kalian juga pasti pernah dooong ke pulau Bali, dan pasti tau gimana masyarakat sana yang sederhana dan bersahabat banget. Nah! Itulah perpaduan saya, cukup jelas ya, kalau banyak yang bilang kenapa saya banyakan bilang “Iya” padahal aslinya saya ngga senang, ya datangnya dari sana. Terus gimana taunya kalau bener “Iya” atau “Enggak”, oh gampanggg… Kalau orangnya ngeri pasti tau kalau kata iya atau kata enggak itu maksudnya buat yang mana. Kuncinya, saya ngga suka orang yang terlalu memaksakan kehendak mereka untuk selalu masuk atau diterima oleh saya, apalagi sok-sok bilang bisa diajak kompromi, padahal ketika kita berpendapat, balik lagi hasilnya harus ikut kata mereka. Kan nyebelin ya lama-lama, Oh ya sudah “Njih” terus hasilnya. 

Balik ke topik awal. Banyak teman baru, yang kalau baru kenal langsung akrab dan baik dengan saya, Alhamdulillah… Karena saya juga memang berharap selalu begitu. Itu semua dari akhlak. Memang tutur kata saya kadang nyablak kalau lagi hangout sama teman seumuran, apalagi dengan yang seperti sahabat sendiri, sudah ngga ada jaim-jaiman lagi. Beda kalau sama orang yang lebih tua, tentu akhlak, etika, dan moralnya jauh lebih diperhatikan, saya tau harus bagaimana dan dimana saya bisa tertawa yang terbahak-bahak dan dimana saya harus mengutamakan kesopanan dalam berperilaku. Bukan berarti sama teman jadi boleh nggak sopan, cuma nggak kaku-kaku amat lah…

Apa sih Akhlak? 

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.

Bedanya akhlak, moral dan etika, kalau akhlak dinilainya dari al-Quran dan al-Hadis, kalau moral atau susila dinilai dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat,  sedangkan etika dinilai dari akal pikiran atau rasio.

Saya orangnya susah marah sama PRT, sama teman, sama orang tua, sama siapapun kecuali ini… Pasangan. Hehehe ini beda lagi nanti topiknya, tapi sekilas aja ya, kenapa saya cuma bisa marah atau ngambek sama pasangan? Karena kalau saya marah sama pasangan, pasangan saya ngerti kalau saya nggak suka ini-itu, begini begitu tapi masih terjadi, ya ngambek lah. Tapi kalau sama orang selain pasangan, kalau mereka nggak tau tentang saya ya wajar aja, mereka kan ngga se-intim seperti kedekatan saya dengan pasangan saya, dan lagi pasangan kan kalau mau ngambek sengambek-ngambeknya pasti nggak ada dendam, tinggal di rayu dikit, selesai semua. Jadi apa-apa emang jatuhnya sering ngambek ke pasangan tapi kalau pasangannya ngerti itu sih sepele ya, semua wanita emang mudah labil emosinya apalagi kalau lagi datang bulan, kecapekan, setelah melahirkan atau masa menyusui, atau kalau lagi datang badmood, yaa kurang lebih begitu.

Ok, setelah dipelajari lebih dalam tentang akhlak dan agama bahwa, “Mana yang lebih utama, seorang yang agamanya kurang tetapi akhlaknya bagus atau seorang yang agamanya bagus (iltizam/kokoh dalam mengamalkan syariat) tetapi akhlaknya kurang? Dan bagaimana hubungannya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam, akhlaq yang baik akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan dunia dan akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaiminrahimahullah Menjawab,

Sesungguhnya pengaruh seorang yang memiliki kesempurnaan akhaq terhadap sesama, seperti untuk menarik dan membawanya kedalam agama Islam, tentu lebih besar pengaruhnya dari pada seorang yang beragama tetapi berakhlaq buruk. Dan jika ada orang yang agamanya kuat ditambah baik akhlaqnya maka yang demikian adalah lebih sempurna lagi. Adapun menganggap lebih utama orang yang kuat ibadahnya saja tetapi akhlaqnya buruk maka itu masalah yang tidak bisa dipastikan

Jadi kasar kata, Kurang Pas! ngaji siang malam, bolak balik masjid, baik sedekahnya, puasanya, sholat-sholatnya, tapi akhlaknya seperti iri hati, buruk ucapannya, buruk isi pikirannya, mencampuri urusan orang lain, dengki, bergosip, nonton sinetron, dangdutan, dan lain sebagainya.  Begitu pula sebaliknya, orang yang sopan santun, ramah, tidak kasar, sabar, kalem, kemayu, berpakaian tertutup, tetapi nggak sholat, nggak sedekah, percaya dukun, dan lain sebagainya, juga percuma. 

Saat ini sholat saya juga belum 5 waktu tapi saya selalu berusaha agar dapat 5 waktu. Sebenarnya dari zaman remaja dulu saya sering sekali membaca tulisan-tulisan tentang ilmu agama baik dari majalah, online, pengajian, kultum (kuliah tujuh menit), atau dari lingkungan sekitar. Hanya saja saya ngga punya partnernya buat saling support memperdalam agama. Sejak saat itu pula saya bercita-cita memiliki suami yang pandai agama atau baik agamanya, agar setidaknya saya bisa memperbaiki kesalahan saya dimasa remaja, dan menabung untuk di akhirat. Dulu pemikiran saya begini, muda saya gakpapa deh jarang sholat, tapi saya terus berperilaku baik dan sopan, setidaknya ada amalan baik kepada sesama, nanti pas udah nikah saya tinggal perbaikan agamanya aja… Jadinya saya baik di sikap, sifat, dan agama. Hehehe sepolos itu! Ternyata praktiknya, masih belum sesuai dengan harapan, saya masih harus belajar dan mendalami agama saya sendiri dan masih dengan cara yang sama. Mungkin Allah punya rencana lain.. Wallahualam.

Teman, disini saya mau menjelaskan, mungkin ada beberapa yang pemikirannya seperti saya, bahwa berperilaku baik saja sudah cukup untuk bekal di akhirat, seolah-olah berbuat baik itu sudah sama seperti beribadah. Memang benar, berbuat baik kepada sesama termasuk beribadah dan mendatangkan pahala, tetapi bukan itu saja, kita juga mesti menjalankan perintah-perintahNya. 

Manusia hidup di dunia cuma sementara, semua titipan Allah SWT, bahkan anak yang kita lahirkan sekalipun. Semua akan ada pertanggung jawabannya kelak. Siksa kubur itu nyata, belum lagi siksa di akhirat. Orang yang sudah betaubat saja belum tentu diterima Allah SWT apalagi kita yang masih sering berbuat dosa dan menjanjikan taubat dan kemudian berbuat dosa lagi. Subhanallah, begitu dekatnya kita dengan tentara Iblis, sehingga melakukan dosa itu sangat mudah dan asyik.

Baru-baru ini saya juga terjebak oleh tentara iblis dan melakukan dosa, dosa besar. Kemudian saya tersadar, dan saya cepat-cepat kembali ke jalan Allah, karena saya sadar bahwa manusia selalu berbuat dosa dan hanya bisa mendapat ampunan dariNya. Ternyata setelah saya baca dan pelajari lagi solusi dari segala permasalahan saya, hati saya jadi lebih tenang dan ikhlas, karena saya punya panduan untuk kembali ke jalan yang lurus, jalan yang benar. 

Tugas saya saat ini, dan juga tugas teman-teman semua adalah agar lebih menyeimbangkan antara akhlak dan agama. Bahwa akhlak baik saja belum cukup haruslah baik agamanya juga. Begitu pula sebaliknya. Kalau teman masih bingung gimana cara memperdalam agama agar bisa maksimal tetapi malas membeli buku atau datang ke pengajian, teman bisa buka lewat internet atau lebih mudah lagi buka dari YouTube, banyak kok isi tentang agama yang bermanfaat. Banyak cara untuk menuju jalan Allah. 

Semoga tulisan ini bermanfaat ya… Maaf apabila ada kesalahan dalam bahasa ataupun penulisan. Terima kasih sudah mampir… 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s