Hindari Produk “Animal Testing”!!! Dukung #IndonesiaCrueltyFree

animal-test
Hai guys.
Kalian pencinta hewan dan penggemar kosmetik? Tentunya sebagian dari kalian tau yang namanya animal testing kan? Animal testing atau percobaan terhadap hewan adalah suatu bentuk penelitian yang menggunakan hewan sebagai objek percobaan. Beberapa sebutan lainnya yakni animal experimentation, animal research, in vivo testing, dan vivisection. Jika kalian membaca atau mendengar suatu perusahaan menggunakan istilah tersebut, artinya mereka menggunakan hewan dalam proses penelitiannya. Tujuannya apa sih? Yang banyak kita dengar adalah untuk penelitian kesehatan, pangan, dan kosmetik. Sayangnya, dalam proses tersebut, tak jarang hewan yang tak berdosa tersebut mati terbunuh dan setelah penelitian berakhir banyak hewan yang dibunuh dengan keji untuk mencegah interaksi dengan hewan yang akan menjadi objek penelitian selanjutnya.
Hewan yang sering digunakan dalam penelitian biasanya mencit, tikus, atau hewan pengerat lainnya. Pada tahun 2001 di Inggris, tercatat terdapat sekitar 1,6 juta ekor mencit yang digunakan dalam penelitian suatu produk baik untuk produk kesehatan, pangan, atau kosmetik. Selain itu terdapat pula 8.273 ekor karnivora, termasuk anjing yang digunakan dalam animal testing tersebut. Umumnya perusahaan yang menggunakan metode animal testing mendapatkan hewan tersebut dari pembiakan atau penangkaran hewan, sedangkan untuk primata sebagian besar masih berasal dari alam liar.
Berberapa percobaan yang sering dilakukan antara lain xenotransplanation (“Xeno”), kalo baca transplanation aja sebagian dari kalian pasti kebayang kayak pemindahan organ ya gak sih? Yup. Xeno adalah metode yang dilakukan dengan mentransfer atau memindahkan organ dari satu species ke species lain, seperti memindahkan organ ginjal dan hati babi ke primata. Dalam proses tersebut, tidaklah jarang apabila hewan uji coba tersebut mengalami gangguan atau kegagalan dan bahkan mati.
Kemudian ada juga animal testing dalam rangka uji toksikologi yang digunakan untuk menguji produk akhir, seperti pestisida, zat untuk medis, dan zat aditif makanan, ataupun senyawa kimia yang terkandung dalam suatu produk pada hewan sehingga terlihat efeknya secara fisiologi pada hewan tersebut. Pada jenis tes toksisitas akut,  untuk mengevaluasi toksisitas dari suatu zat, hal ini dapat membunuh 50% dari objek yang sedang diuji. Uji ini pada tahun 2002 telah dihapuskan.

Selanjutnya masih ada uji kosmetik dan uji obat. Uji produk kosmetik adalah uji hasil akhir ataupun zat-zat yang digunakan dalam pembuatan kosmetik untuk manusia. Hal ini yang paling sering kita perbincangkan. Uji ini dilakukan untuk memastikan produk aman pada manusia namun untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, hewan yang menjadi objek penelitian harus merasakan penderitaannya terutama hewan yang terjangkit penyakit disebabkan oleh zat-zat yang ternyata memberikan efek samping. Banyak yang menjadi cacat, kehilangan organ-organnya seperti mata, tangan, dan kaki, bahkan kematian.

Uji untuk obat. Nah, kalo ini kayaknya banyak banget deh, bahkan gak jarang ya di toko-toko obat tradisional, di dalam toplesnya ada ular, kalajengking, dan lain sebagainya yang dijadikan bahan untuk obat-obatan.

SONY DSC

Sedangkan untuk pelajar atau siswa, kegiatan uji coba lab menggunakan hewan disebut juga uji prakilinik. Uji ini dilakukan sebelum dilaksanakan pada klinis manusia untuk mengurangi resiko saat dilakukan pada manusia. Biasanya menggunakan hewan kecil seperti katak dan kodok. Efek samping dari dosis yang diberikan ditanggung oleh hewan yang tidak berdosa demi menyelamatkan kehidupan manusia. Jujur, pada saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya dan beberapa kawan pernah mengikuti pelajaran biologi dan ikut di dalam proses uji lab menggunakan hewan katak dan tikus. Kami bius hewan tersebut sampai benar-benar tidak sadar dan kemudian sang guru mulai membedah isi perut hewan tersebut, at the end? mereka dibiarkan mati karena sudah dikoyak-koyak untuk dipelajari anatomi tubuhnya. Sungguh tragis.

3

Selain harus menanggung derita dari berbagai jenis zat dan produk obat yang diuji, ternyata mereka juga masih diperlakukan tidak layak. Banyak dari hewan yang ditempatkan dalam kandang yang kotor dan tidak layak. Tak jarang kebutuhan nutrisi mereka kurang diperhatikan. Bahkan ada yang memperlakukan hewan tersebut dengan tidak baik, seperti diikat atau ditempatkan dalam kandang yang sempit. Padahal hewan-hewan tersebut telah banyak memberikan konstribusi penting bagi kehidupan manusia. Hal ini tentu perlu diperhatikan dan dibuatkan aturan yang jelas tentang bagaimana pola perawatan serta prosedur yang baik bagi hewan-hewan tersebut.

Berdasarkan dari penjelasan yang singkat ini, animal testing sebaiknya dikurangi bahkan dihentikan! Dengan berkembangnya teknologi, alternatif metode untuk mengujui suatu zat tanpa harus menyakiliti hewan telah banyak ditemukan. Beberapa metode tersebut antara lain, komputerisasi prediksi, in vitro melalui jaringan atau sel hewan atau manusia dalam tabung kultur, penggunaan protein dan enzim, ataupun penggunaan ‘jasa manusia’ langsung yang aman dan sesuai bioetika. Metode-metode tersebut lebih aman dan bisa menjadi solusi kontroversi animal testing yang telah berlangsung lama.

Pada beberapa penelitian, zat-zat yang berhasil lolos uji pada animal testing, memberikan efek berbeda pada manusia. Contoh kasus, obat arthritis Vioxx aman dan baik bagi jantung hewan tetapi menyebabkan sedikitnya 140,000 kasus serangan jantung dan stroke pada manusia, dan data ini hanya di wilayah Amerika saja, belum di daerah lainnya. Dr. Richard Klausner dari US National Institute (NCI) menyatakan banyak studi yang telah berhasil menyembuhkan kanker di mencit, tetapi nihil di manusia. Asap rokok, arsenik, asbes, benzen, dan alkohol ternyata aman digunakan berdasarkan studi pada hewan, tetapi di manusia efeknya sangat berbahaya.

Penjelasan di atas tentunya bisa menjadi penambah wawasan bagi kita bahwa tidak semua hasil aman dari animal testing  maka aman pula bagi manusia, begitu pula sebaliknya. Uji coba pada hewan dengan alasan agar aman saat digunakan pada manusia menjadi tidak beralasan. Dalam 10 tahun penelitian internasional, menyatakan bahwa penggunaan test pada kultur sel manusia (tube-test), lebih efektif dan lebih mudah diaplikasikan dalam mekanisme pengobatan pada manusia dibandingkan penelitian tradisional yang menggunakan hewan sebagai objek penelitiannya. Jadi mengapa masih melakukan uji pada satwa?

Hal lain yang dapat kita lakukan adalah selektif terhadap produk yang kita beli. Dengan tidak membeli produk dari perusahaan yang melakukan animal testing, kita ikut berpartisipasi mengurangi penderitaan para hewan. Perusahaan yang tidak melakukan animal testing umumnya menggunakan label non-animal testing, meskipun ada juga yang tidak mencantumkannya. Dibawah ini aku cantumkan list perusahaan yang MASIH menggunakan metode animal testing. Jangan kaget yaaa… sebagian besar produk-produk tersebut masih sering kita gunakan lho!

A.

Acuve (Johnson&Johnson), Aim (Church & Dwight), Air Wick (Reckitt Benckiser), Algenist, Almay (Revlon), Always (Procter & Gamble), Ambi (Johnson & Johnson), American Beauty (Estee Lauder), Anna Sui, Aquafresh (GlaxoSmithKline), Aramis (Estee Lauder), Arm & Hammer (Church & Dwight), Arrid (Chruch & Dwight), Atelier Cologne, Aussie (Procter & Gamble), Aveeno (Johnson & Johnson), Avon Products.Inc,;

B. 

Bain de Soleil (Bayer), Balenciaga, Band-Aid (Johnson & Johnson), Bausch + Lomb (Valeant Pharmaceuticals), Beiersdorf, Benefit Cosmetics, BENGAY (Johnson & Johnson), Bic Corporation, Biotene (GlaxoSmithKline), Biotherm, Biotherm (L’Oreal), Blue Buffalo, Bobbi Brown (Estee Lauder), Boscia, Bounce (Procter & Gamble), Bounty (Procter & Gamble), Braun (Procter & Gamble), Breathe Right (GlaxoSmithKline), Burberry, BVLGARI parfums;

C.

Cacharel (L’Oreal), Calgon Water Softener (Reckitt Benckiser), Calvin Klein Cosmetics, Caudalie USA,Inc, Chapstick (Pfizer), Cheer (Procter & Gamble), Chloe, Christina Aguilera Parfumes (Procter & Gamble), Church & Dwight (Arm & Hammer), Citre Shine (Henkel), Clairol (Coty), Clarins of Paris, Clarisonic, Clean & Clear (Johnson & Johnson), Clearasil (Reckitt Benckiser), Clinique (Estee Lauder), Clorox, Close-up (Church & Dwight), Collistar, Comet (Procter & Gamble), Command (3M), Condense Paris, Coppertone (Bayer), Coty Inc., Crest (Procter & Gamble);

D.
Davidoff, Dawn (Procter & Gamble), Dial (Henkel), Diesel, Dior, DOLCE & GABBANA (Coty), Donna Karan (Estee Lauder), Downy (Procter & Gamble), Dr. Brandt’s Skincare, Dr. Jart, Dr. Scholl’s (Bayer), Drano (S.C. Johnson), Dry Idea (Henkel), DTRT, Dunhill Fragrances (Procter & Gamble), Durex (Reckitt Benckiser);
E.
Easy-Off (Reckitt Benckiser), Eisenberg Paris, Elie Saab, Elizabeth Arden, ELLEgirl, Era (Procter & Gamble), Erborian, Escada Fragrances (Coty), Estée Lauder, Ever Clean (Clorox);
F.
Fantastik (S.C. Johnson), Febreze (Procter & Gamble), Fendi, Finish (Reckitt Benckiser), Fixodent (Procter & Gamble), For Beloved One, Formula 409 (Clorox), Fresh Step (Clorox);
G.
göt2b (Henkel), Gain (Procter & Gamble), Garnier (L’Oreal), Gatineau (Revlon), Gillette Co.(Procter & Gamble), Giorgio Armani (L’Oreal), Givenchy Inc., Glad (Clorox), Glade (S.C. Johnson), GLAMGLOW, Good Skin Labs (Estee Lauder), Grassroots (Estee Lauder), Green Works (Clorox), Gucci Fragrances (Coty), Guerlain;
H.
Head & Shoulders (Procter & Gamble), Helena Rubinstein (L’Oreal), Hoyu, Hugo Boss (Coty);
I.
Institut Esthederm, Issey Miyake, Ivory (Procter & Gamble);
J.
J.F. Lazartigue, Jimmy Choo, Jo Malone (Estee Lauder), Johnson & Johnson, Johnson’s (Johnson & Johnson), Joy (Procter & Gamble), June Jacobs, Jurlique Pure Skin Care;
K.
K.Y. (Johnson & Johnson), Kaboom (Church & Dwight), Kao USA, Kenzo Parfums, Kerastase (L’Oreal), Kiehl’s (L’Oreal), Kose;
L.
L’Occitane, L’Oreal USA, La Mer (Estee Lauder), Lab Series for Men (Estee Lauder), Lacoste Fragrances (Coty), Lancôme (L’Oreal), Lancaster Beauty, Laneige, Lanvin, LaRoche Posay (L’Oreal), Leaders Cosmetics, Liquid Plumr (Clorox), Listerine (Johnson & Johnson), Loewe, Lubriderm (Johnson & Johnson), Lysol (Reckitt Benckiser);
M.
M.A.C. Cosmetics (Estee Lauder), Makeup Forever, Mama Mio, Marc Jacobs Fragrances, Mary Kay, Matrix (L’Oreal), Max Factor (Coty), Maybelline (L’Oreal), Mead, Mediplorer, Melaleuca, Menard Cosmetics, Mentadent (Church & Dwight), Merck, Michael Kors (Estee Lauder), Missoni (Estee Lauder), Mitchum Deodorant (Revlon), miu miu, Mizani (L’Oreal), Mont Blanc, Mr. Clean (Procter & Gamble), My Trendy Kit;
N.
Nair (Church & Dwight), Nars Cosmetics, Natural Balance Pet Foods, Inc., Natural Instincts (Coty), Nature’s Source (SC Johnson, Neutrogena (Johnson & Johnson), New Dana Perfumes, Nexcare (3M), Nice ‘n Easy (Coty), Nina Ricci (Puig), Nioxin (Coty), Nivea (Beiersdorf), Nu Skin International;
O.
Off (S.C.Johnson), OGX (Organix), Ojon (Estee Lauder), Olay (Procter & Gamble), Old English (Reckitt Benckiser), Old Spice (Procter & Gamble), Oomph! (Clorox), Orange Glo (Church & Dwight), Oriflame USA, Origins (Estee Lauder), Osiao (Estee Lauder), Oust (SC Johnson), OxiClean (Church & Dwight);
P.
Paco Rabanne (Puig), Pampers (Procter & Gamble), Pantene (Procter & Gamble), Pearl Drops (Church & Dwight), Pepsodent (Church & Dwight), Peter Thomas Roth, Physique (Procter & Gamble), Phyto, Pine-Sol (Clorox), Piz Buin (Johnson & Johnson), Pledge (S.C. Johnson), POLA Cosmetics, Polident (GlaxoSmithKline), Post-It (3M), Prada (Puig), Prescriptives (Estee Lauder), Pronamel (GlaxoSmithKline), Puffs (Procter & Gamble), Pure Heal’s, Purex (Dial), Purpose (Johnson & Johnson);
R
Raid (S.C. Johnson), Ralph Lauren Fragrances (L’oreal), Reach (Johnson & Johnson), Reckitt Benckiser, Redken (L’Oreal), Rembrandt (Johnson & Johnson), Renuzit (Dial), Resolve (Reckitt Benckiser), Revlon, Rid-X (Reckitt Benckiser), Right Guard (Henkel), Roberto Cavalli, ROC (Johnson & Johnson), Rogaine (Johnson & Johnson), Rossi & Rossa;
S
S.C. Johnson, S.O.S. (Clorox), Safeguard (Procter & Gamble), Salvatore Ferragamo, Savlon (Johnson & Johnson), Schwarzkopf (Henkel), Scoop Away (Clorox), Scope (Procter & Gamble), Scotch (3M), Scotch-Brite (3M), Scotchgard (3M), Scrub Free (Church & Dwight), Scrubbing Bubbles (S.C. Johnson), Sebastian International, Sebastian Professional (Coty), Secret (Procter & Gamble), Sensodyne (GlaxoSmithKline), Sephora Cosmetics, Shiseido Cosmetics, Shout (S.C. Johnson), Shower to Shower (Johnson & Johnson), Shu Uemura, Shu Uemura(L’Oreal), Sinful Colors (Revlon), SK-II (Procter & Gamble), Skin ID (Johnson & Johnson), SkinVitals, Soft Scrub (Dial), SoftSheen (L’Oreal), Spray ’N Wash (Reckitt Benckiser), Swiffer (Procter & Gamble);
T
Talika, The History of Whoo, Thermacare (Pfizer), Thursday Plantation, Tide (Procter & Gamble), Tilex (Clorox), Tom Ford (Estee Lauder), Tommy Hilfiger (Estee Lauder), Tone (Henkel), Tous, Trend (Henkel), Trojan (Church & Dwight);
V.
Valentino, Veet (Reckitt Benckiser), VELD’S Skincare, Venus (Procter & Gamble), Vera Wang, Versace, Vichy (L’Oreal), Vicks (Procter & Gamble), Victoria’s Secret (L Brands), Vidal Sassoon (Coty), Viktor & Rolf (L’Oreal), Visine (Johnson & Johnson);
W.
Walgreens, Wei Beauty, Wella (Coty), Windex (S.C. Johnson), Woolite (Reckitt Benckiser);
X.
Xtra (Church & Dwight), Yves Rocher USA;
Z.
Zegna, Zirh, Zout (Henkel).
Kalau diperhatikan, rata-rata yang masuk ke dalam list animal testing bener-bener produk yang biasa kita temui di mall-mall atau tempat perbelanjaan yah. Seperti kebanyakan dari produk Johnson & Johnson, L’Oreal, Estee Lauder, dan masih banyak lagi produk lainnya yang menggunakan metode animal testing. Untuk Estee Lauder sendiri dulu sudah pernah diminta untuk menghentikan penggunaan metode animal testing, tapi nampaknya hal tersebut belum ditanggapi dengan serius oleh Estee Lauder.
Uni Eropa secara resmi melarang uji coba kosmetik terhadap binatang di Eropa dengan adanya pernyataan pelarangan impor serta penjualan produk dan bahan kosmetik yang diujicobakan terhadap binatang di Uni Eropa mulai 11 Maret 2013.
Jadi, saat ini kalian yang sudah baca blog ini tentunya semakin teredukasi dong ya tentang bahaya dan konsekuensi yang didapat dari produk yang diuji pada binatang. Karena faktanya, tidak ada jaminan bahwa menggunakan hasil uji terhadap hewan akan berdampak positif pada manusia. Lalu apa yang harus kita lakukan? Memulai dengan tidak membeli produk-produk yang menggunakan metode animal testing sebagai bentuk penolakan akan metode tersebut. Kemudian usahakan untuk melihat kemasan yang tercantum logo yang menandakan produk tersebut cruelty free resmi seperti di bawah ini:
Cruelty-Free-Logos-Cruelty-Free-Certifications-Vegan-and-cruelty-free

Amerika Serikat, India, Norway, Israel, Eropa, Australia, New Zealand, secara resmi menyatakan melarang penggunaan animal testing, namun selebihnya masih menganggap animal testing adalah hal yang biasa saja. Mari kita dukung perubahan ini, dengan terus aktif dalam menandatangani petisi-petisi tentang animal testing free sebagai salah satu bentuk usaha kita agar hewan tidak lagi dijadikan objek penelitian demi kepentingan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s